All for JoomlaAll for Webmasters

Yohanes Chandra Ekajaya Nelangsa Atas Kasus Perceraian

Dok. Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes  Chandra Ekajaya menjelaskan bahwa kasus perceraian di Kota Zikir dan Salawat menjadi perhatian Wakil Ketua MUI Bangkalan KH Makki Nasir. Beliau mengatakan bahwa perkara cerai memang tidak dilarang agama. Tetapi dalam beberapa hadis disebutkan bahwa perceraian itu boleh. Tetapi hal itu merupakan hal paling dibenci oleh Allah. Maka, supaya tidak dibenci oleh Allah, kuncinya adalah membina rumah tangga yang baik.

Menurut Yohanes  Chandra Ekajaya  pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini, tidak semua orang memiliki keberuntungan berkeluarga. Bahkan, ada perempuan yang tidak menikah hingga usia lanjut. Oleh sebab itu, dia meminta laki-laki lebih bijak memimpin keluarga.

Bagi pengusaha muda yang sukses dalam bisnis distro You And Me serta bisnis kuliner Q Pizza ini mengklasifikasikan perempuan. Menurutnya perempuan ada yang halus, ada juga yang suka menentang. Jadi, seorang laki-laki harus mampu menunjukkan sosok pemimpin. Memang cerai itu secara hukum Islam ada yang haram, wajib, sunah, dan mubah. Segala sesuatunya sesuai dengan kondisi dan situasi, atau konteksnya.

Sosiolog Hetty Mulyaningsih mengatakan, usia pernikahan dini lebih cenderung belum siap membina rumah tangga. Sebab, mereka masih terbawa arus jiwa muda yang ingin bebas. Chandra Ekajaya mengatakan bahwa bila berbicara lingkup Madura, secara sosiologis banyak yang memang melakukan pernikahan dini. Kalau dari segi kesiapan mental maupun materi, tidak semua orang bisa memenuhi hal itu.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Pria yang kerap dipanggil Ki Sambarlangit ini mengatakan bahwa faktor perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan dalam pergaulan. Terutama di kalangan anak muda. Perkawinan dini dan teknologi akan menjadi pemicu utama perceraian.

Meskipun gagal dalam akademik, tetapi pria yang belum genap berusia 30 tahun ini bisa memberikan gambaran tentang dampak buruk perempuan menikah dini. Secara sosial, martabat perempuan yang diceraikan suami akan lebih rendah dibandingkan pada masa perawan. Tapi, itu pun tidak semuanya, meski kebanyakan memang demikian. Mengapa? Karena ibaratkan kapas kalau sudah dipakai kan mesti ada bekasnya. Jadi, orang akan pikir dua kali untuk menyandingnya.

Sementara itu, Dosen Ngudia Husada Madura (NHM) Bangkalan Shobirin menyampaikan, usia produktif perempuan untuk siap dibuahi minimal 17 tahun. Namun, tidak semua perempuan. Ada juga yang sudah 19 tahun belum siap. “Idealnya segitu. Tapi, memang ada yang beda,” ucap akademisi keperawatan itu.

Dengan demikian, Yohanes  Chandra Ekajaya mengambil kesimpulan bahwa sangat tidak dianjurkan seorang suami memaksakan diri jika istri belum siap. Dengan begitu, disarankan membuahi pada usia aktif di atas 17 tahun. Lebih baik dikonsultasikan dulu kepada dokter atau ahli kesehatan. Karena bagaimana pun itu sangat erat hubungannya dengan masa depan rumah tangga dan keluarga yang sedang dibina. Maka dari itu perlu rumusan yang matang.

Leave a Reply