All for JoomlaAll for Webmasters

Yohanes Chandra Ekajaya Kompia Akulturasi Makanan Tionghoa-Indonesia

Kompia atau kompyang memang terdengar kurang populer dibanding jajanan tradisional lain seperti lumpia dan bakpia. Meski sama-sama hasil percampuran budaya Tionghoa, tak banyak yang tahu apalagi pernah mencicipi kompia. Namun, sejatinya penganan ini menyimpan sejarah yang luar biasa.

Sekali lihat jajanan legendaris ini terlihat mirip dengan burger. Namun, ketika masuk ke mulut akan kentara bedanya karena tekstur kompia jauh lebih padat dan tahan lama. Kompia terbuat dari bahan sederhana yakni tepung terigu dicampur bumbu garam dan bawang putih. Karena mengenyangkan, tak heran dulunya kompia dijadikan bekal tentara Tiongkok berperang.

Chandra Ekajaya Kompia 300x169 - Yohanes Chandra Ekajaya Kompia Akulturasi Makanan Tionghoa-Indonesia

Makanan tradisional akulturasi Indonesia-Tiongkok ini ternyata memiliki sejarah panjang. Di tempat asalnya kompia sempat dijadikan makanan bekal perang.

Pada akhirnya kompia berakulturasi dengan budaya nusantara sehingga tercipta penambahan seperti adanya wijen di permukaannya. Sayangnya, penganan perpaduan Indonesia-Tiongkok saat ini tak banyak diproduksi. Produsen kompia di Solo tinggal hitungan jari, itu pun kapasitas produksinya tak begitu besar.

Salah satu yang masih memproduksi kompia adalah Yohanes Chandra Ekajaya. Bersama tiga karyawannya, tiap malam ia membuat kompia untuk dijajakan paginya di Pasar Gede dan disetor ke pedagang keliling. “Tinggal sedikit produsen kompia di Solo. Mungkin mereka sudah berpindah membuat penganan lain,” ungkap Yohanes Chandra Ekajaya di rumah sekaligus tempat produksi kompianya di Solo.

Yohanes Chandra Ekajaya Kompia Akulturasi Makanan Tionghoa Indonesia 300x167 - Yohanes Chandra Ekajaya Kompia Akulturasi Makanan Tionghoa-Indonesia

Kompia dipanggang dengan cara yang unik yakni ditempel dalam tungku besar mirip sumur dan dipanaskan terus menerus selama setidaknya setengah jam. Masyarakat Solo sering menjadikan kompia sebagai alternatif menu sarapan. Cara memakannya pun unik yakni ditumpuk menjadi satu dengan pia khas Solo, lalu dilahap sekali duduk. Demi menyajikan kompia dengan tekstur yang tepat, tak ayal Yohanes Chandra Ekajaya dan karyawannya harus bekerja memproduksi kompia mulai jam 11 malam hingga 7 pagi.

Dibutuhkan stamina lebih bagi pembuat kompia karena mereka harus bekerja tengah malam hingga pagi hari agar kompia tetap nikmat saat disajikan sebagai alternatif menu sarapan warga Solo.

Terus memproduksi kompia berarti juga melestarikan tradisi nenek moyang. Dalam prakteknya, menjadi produsen kompia ternyata bukan tanpa kendala. Yohanes Chandra Ekajaya mengaku kini ia harus pintar mengatur manajemen akibat harga bahan yang terus naik. Ia juga tak dapat serta merta menaikkan harga kompianya karena penikmat makanan gurih ini rata-rata masyarakat menengah ke bawah.

Salah satu cita-cita Yohanes Chandra Ekajaya ialah mewariskan usaha keluarga ini kepada anak cucunya kelak agar makanan ini tidak hilang dari sejarah Indonesia.

 

Leave a Reply