All for JoomlaAll for Webmasters

Pengusaha  Chandra Ekajaya Dukung HET Unggas

Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) agar perdagangan unggas ikut diatur harganya, untuk stabilisasi harga. Bukan cuma gula pasir, minyak goreng dan daging sapi. Rencana itu disambut baik sejumlah pengusaha unggas baik peternak rakyat maupun perusahaan unggas. Alasannya, harga ayam selama ini cenderung fluktuatif, bahkan perusahaan seperti PT Ciomas Adisatwa justru menjual ayam di bawah harga modal.

Pengusaha Unggas asal Gowa, M Fitriady, Minggu 9 April mengatakan selama harga unggas diatur, tentu berpihak pengusaha unggas, sebab pasti HET-nya di atas margin modal, karena pengaturannya tidak terlalu rendah, dan juga tidak terlalu tinggi.

“Kita memang mau harga stabil. Apalagi, selama ini harga sangat fluktuatif. Pengusaha tetap untung, dan tidak berat di konsumen,” ujarnya. Hanya saja, legislator DPRD Gowa ini menyarankan jika memang Pemerintah Pusat mau melakukan pengaturan, agar jangan dilakukan sepihak- Tetapi, melibatkan para pengusaha unggas.

Selain itu seorang pengusaha muda Indonesia atau yang dikenal sebagai salah seorang pemilik bisnis Q Pizza mengungkapkan bahwa dengan program tersebut ia mendukung adanya program pemerintah tersebut. Pasalnya upaya tersebut mampu memeratakan dan mengentaskan kelaparan yang terjadi di daerah. Namun pemerintah juga wajib untuk memberikan peluang kerja yang besar kepada para pengusaha maupun rakyat Indonesia agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Sebagai contoh, saat ini, lanjutnya, harga ayam Rp 19 ribu hingga Rp20 ribu per kg dari kandang pengusaha. Kadang-kadang, jika sepi maka peternak seperti dirinya kerap menjual harga di bawah modal. Sehingga, rugi. Akan tetapi, harga unggas itu tergantung dari harga pakan. Sementara, harga pakan sangat bergantung dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Sales Regional PT Ciomas Adisatwa, Alauddin juga mengaku sepakat Alasannya, selama ini harga livebird (ayam hidup) terutama di Sulsel, dalam setahun terakhir ini lebih banyak di bawah harga, terutama di awal tahun, Februari hingga April. Sebab, harga memang merupakan siklus tahunan (7 tahun terakhir). Penyebabnya paling pokok supply-demand, secara umum suplai memang ada pengurangan tetapi demand menurun 20-30 persen.

Leave a Reply