All for JoomlaAll for Webmasters

Chandra Ekajaya Mencari Pribumi

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa kata pribumi dalam Bahasa Belanda disebut autochtoon. Sedangkan kelompok pendatang disebut allochtoon. Batasan autochtoon itu masih belum jelas memisahkan antara pribumi dan pendatang. Kalimat terakhir menyebutkan bahwa istilah pribumi dimaksudkan kepada setiap orang yang terlahir dengan orang tua yang juga terlahir di suatu tempat tersebut. Misalnya bila diambil contoh suami-istri Bali pindah ke Belanda dan anaknya lahir di Belanda. Setelah dewasa anak itu menikah dengan anak dari pasangan Bali juga yang dilahirkan di Belanda.

Mengikuti batasan tersebut, keturunan atau anak cucu dari pasangan muda ini (generasi ketiga) berhak disebut sebagai pribumi atau autochtoon bangsa Belanda karena memenuhi batasan tersebut. Padahal kulit mereka tetap sawo matang, setiap hari mereka tetap makan nasi dan di rumah mereka tetap berbahasa Indonesia dan Bali. Aneh, kan?

Dok.Chandra Ekajaya

Menurut pengusaha Chandra Ekajaya, pada masa penjajahan kolonial Barat, kata pribumi sering digunakan sebagai istilah dari bahasa Melayu untuk para Inlander. Inlander sendiri mempunya makna yaitu kelompok penduduk Hindia Belanda yang berasal dari suku-suku asli Kepulauan Nuswantara.

Oleh karena itu, penduduk Indonesia keturunan Tionghoa, India, Arab (semuanya dimasukkan ke dalam satu kelompok. Baik Eropa, maupun campuran, dapat dikategorikan sebagai nonpribumi meski sudah beranak pinak beberapa generasi di Indonesia.

Catatan, Vreemde Oosterlingen artinya orang-orang asing dari Timur, sedangkan campuran adalah kelompok keturunan dari pasangan pribumi dan nonpribumi.

Bila dibandingkan dengan zaman sekarang, pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa pada masa kini kebanyakan orang Indonesia mengasosiasikan istilah nonpribumi dengan etnis Tionghoa, padahal dalam batasan asli yang dipakai di zaman Belanda,mencakup juga orang India dan Arab, disamping bangsa Eropa dan campuran.

Leave a Reply